4 PILAR DAPAT DIBANGUN MELALUI KEARIFAN LOKAL

GambarSengaja atau tidak sengaja, disadari atau tidak disadari, saat ini masih ada orang yang belum hapal Pancasila, belum mengetahui makna Bhinneka Tunggal Ika, belum mengerti kedudukan UUD 1945 dan belum bisa memaknai NKRI dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Penghayatan makna dari empat pilar kebangsaan yakni UUD 1945, Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI dirasakan semakin menurun sehingga masih ada yang beranggapan bahwa empat pilar tersebut adalah sekedar berupa slogan-slogan,  sekedar suatu ungkapan indah, yang kurang atau tidak bermakna dalam menghadapi era globalisasi. Bahkan ada yang beranggapan bahwa empat pilar tersebut sekedar sebagai jargon politik belaka.
Adapula yang berpendapat bahwa disintegrasi bangsa belakangan ini diakibatkan adanya kehilangan dari doktrinasi pemahaman konseptual empat pilar berbangsa dan bernegara dan perkembangan kondisi bangsa saat ini menunjukkan arah yang semakin tak menentu. Kondisi lainnya, dalam dunia pendidikan sudah mulai menyingkirkan budaya Pancasilais. Pancasila hanya dianggap sebagai baju ideologi dan pemahaman akan Pancasila sudah mulai pudar bahkan hilang dari para generasi muda.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang mempunyai jiwa. Negara yang tidak mempunyai jiwa pada sendirinya akan hancur. Pancasila hadir sebagai perekat jiwa pemersatu kesatuan dan persatuan bangsa. Sebagai contoh, lepasnya Timor Timur dari ibu pertiwi dan maraknya tawuran yang saat ini terjadi di berbagai daerah merupakan salah satu akibat dari tidak adanya pemahaman akan empat pilar tersebut. Apalagi terjadinya korupsi di berbagai sektor oleh oknum-oknum yang merugikan negara sebagai akibat kurangnya pemahaman dan penghayatan Pancasila.
“Empat Pilar” kehidupan berbangsa dan bernegara adalah pertama, Pancasila yang harus dijadikan sebagai landasan ideologi, falsafah, etika moral, serta alat pemersatu bangsa. Kedua, UUD 1945 yang dijadikan sebagai hukum dasar yang wajib menjadi sumber hukum dan rujukan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Ketiga, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), yang merupakan konsensus yang harus dijunjung tinggi, karena tujuan negara akan terwujud melalui perjuangan bangsa Indonesia yang bersatu dalam bingkai NKRI, bukan negara yang terpecah-pecah penuh konflik dan pertentangan. Dan keempat adalah Bhinneka Tunggal Ika, yang harus dijadikan sebagai solusi atas kemajemukan bangsa yang terdiri dari berbagai macam agama, suku, ras, dan budaya. Kemajemukan dapat dijadikan sebagai investasi untuk bersatu, bukan sebagai alat pemicu konflik.
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar dan majemuk. Berbagai macam suku, agama dan budaya, bahkan ratusan bahasa kita miliki. Hal ini jangan kita pandang sebagai suatu perbedaan, namun justru menjadi suatu kekayaan dan kebanggaan kita sebagai bangsa Indonesia. Kekayaan tersebut menjadi modal yang tak ternilai harganya, karena mampu menumbuhkan ikatan kebersamaan yang kuat, sehingga sampai hari ini kita masih tetap kokoh dalam bingkai NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia).
Ikatan negara kesatuan akan menjadi semakin kokoh jika terpeliharanya rasa cinta dan nasionalisme yang tinggi yang sudah ada sejak para foundhing fathers mendirikan negara ini. Warisan ini harus selalu kita pelihara, dan kita implementasikan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Namun dewasa ini, nilai-nilai nasionalisme kita semakin terkikis, terbukti dengan banyaknya permasalahan bangsa yang merujuk pada kemajemukan masyarakat Indonesia.
Akar kekerasan masih sering dipicu oleh karena memudarnya rasa toleransi, kebersamaan, dan penghormatan akan nilai-nilai pluralisme. Seperti yang baru-baru ini terjadi, dimana perbedaan antar umat beragama dapat menjadi persoalan yang mengarah kepada konflik SARA. Kasus kekerasan yang dilakukan oleh sekelompok orang yang tidak bertanggung-jawab terhadap kelompok tertentu yang menimbulkan aksi anarkis.
Terkait dengan hal tersebut, maka seluruh masyarakat Indonesia untuk terus menjunjung tinggi dan memperkokoh keberadaan dari nilai-nilai luhur bangsa yang menjadi karakter bangsa Indonesia. Membangun jati diri bangsa melalui pembangunan karakter bangsa (national and character building) harus terus dilaksanakan secara berkesinambungan oleh seluruh komponen masyarakat Indonesia.
Karakter bangsa akan terbangun melalui komitmen kebangsaan yang kuat, serta menghargai ke-Bhinneka-an sebagai modal kekuatan bangsa untuk bersatu. Persatuan dan kesatuan bangsa harus senantiasa dijaga, ditanam dan diimplementasikan dalam setiap aspek kehidupan, agar tidak ada lagi ruang bagi lahirnya benih-benih perpecahan bangsa.
Empat Pilar kehidupan berbangsa dan bernegara memiliki peranan yang sangat penting bagi perjalanan bangsa Indonesia, baik dalam konteks kekinian maupun di masa yang akan datang. Oleh karena itu, pemahaman empat pilar kehidupan berbangsa dan bernegara harus terus digelorakan kepada seluruh elemen masyarakat Indonesia.
Dengan demikian empat pilar kehidupan berbangsa dan bernegara semestinya harus kita jaga, pahami, hayati dan laksanakan dalam pranata kehidupan sehari-hari, dimana Pancasila yang menjadi sumber nilai menjadi ideologi, UUD 1945 sebagai aturan yang semestinya ditaati, dan NKRI adalah harga mati, serta Bhinneka Tunggal Ika adalah perekat semua rakyat. Maka dalam bingkai empat pilar tersebut yakinlah tujuan yang dicita-citakan bangsa ini akan terwujud.
Jika kita memahami dengan lebih mendalam bahwa lahirnya Pancasila, UUD 1945, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI merupakan kristalisasi dari pemikiran dan majunya budaya-budaya serta kearifan lokal masyarakat Indonesia, sehingga sosialisasi tentang nilai, norma dan gagasan empat pilar kehidupan berbangsa dan bernegara akan sangat memiliki arti yang mendalam bila dipadukan dengan pementasan musik dan seni budaya daerah yang bersinergi dengan kearifan lokal masyarakat.
Kita akan mendapatkan moment yang sangat baik untuk memudahkan dalam pengenalan dan peningkatan pemahaman serta penghayatan empat pilar tersebut, karena masyarakat akan mudah mencerna dan memahami melalui seni, adat istiadat serta akar budaya masyarakat yang sesungguhnya empat pilar itupun lahir dari masyarakat itu sendiri. Alangkah lebih baik jika kita tidak memberikan doktrinasi ataupun memaksakan kehendak dalam memberikan materi sosialisasi, karena sesungguhnya empat pilar itu adalah milik dan lahir dari nilai-nilai masyarakat itu sendiri.
Sosialisasi melalui pementasan musik dan seni budaya yang juga mengedepankan sinergitas nilai kearifal lokal masyarakat merupakan metode sosialisasi yang belum pernah dilakukan, karena itu jika metode tersebut dilakukan, diharapkan masyarakat akan dengan mudah dan cepat memahami tentang nilai, norma dan gagasan empat pilar kehidupan berbangsa dan bernegara.
Tentunya kita menyadari bahwa Indonesia memiliki keragaman budaya dan adat istiadat yang berbeda, karena itu pelaksanaan di lapangan akan sangat disesuaikan dengan budaya daerah setempat dan nilai kearifan lokal masyarakat setempat. Sehingga kita akan mudah memberikan pemahaman serta secara tidak langsung kita memperkuat ketahanan budaya daerah sebagai bentuk ketahanan budaya nasional yang disatukan atau diintegrasikan melalui nilai-nilai yang ada didalamnya.
Harmonisasi dari simpony seluruh pementasan seni budaya daerah yang bersinergi dengan kearifan lokal masyarakat tersebut akan menciptakan energi yang sangat dahsyat dalam menggelorakan rasa nasionalisme, serta memperkokoh keberadaan dari nilai-nilai luhur bangsa yang menjadi karakter bangsa Indonesia.
Disamping itu secara bersamaan akan kita turut melestarikan budaya Bangsa Indonesia. Kebudayaan merupakan identitas asli bangsa Indonesia. Budaya daerah sangat diperlukan karena budaya merupakan tonggak sejarah bagi kebesaran suatu bangsa. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarahnya sendiri. Kebudayaan daerah mempunyai banyak peranan penting yang membantu berdirinya serta di kenalnya bangsa Indonesia di mata negara-negara lain. Karena itu sudah semestinya kita mengetahui sejarah keberadaanya dan mempertahankan keberadaannya demi menjaga identitas asli kita sebagai bangsa indonesia.
Bangsa Indonesia merupakan bangsa yang majemuk. Terdiri dari ribuan gugusan pulau yang menyatakan dirinya adalah bangsa Indonesia. Tidak heran jika bangsa Indonesia memiliki banyak keanekaragaman suku dan budaya yang tertuang dalam slogan Bhinneka Tunggal Ika dimana dengan berbagai macam keanekaragaman kekayaan dari adat-istiadat, suku, agama, lagu, kesenian, alat tradisional, makanan, minuman, cara hidup sampai budaya lokal yang berbeda-beda namun tetap mereka memiliki satu bangsa yaitu bangsa Indonesia. Kebudayaan lokal dari masing-masing daerah dari sabang sampai merauke bersatu padu saling menghargai satu sama lain dan saling menyatukan diri tanpa menghilangkan identitasnya masing-masing sehingga semakin menambah kekayaan bangsa yang menyatakan kesatuan budaya lokal yang ada sebagai budaya nasional Indonesia.
Dalam kontek tersebut, sosialisasi (pemasyarakatan) empat pilar kehidupan berbangsa dan bernegara melalui budaya daerah dan kearifan lokal yang dilaksanakan di seluruh propinsi di Indonesia adalah sangat relevan dan sangat urgen untuk dilaksanakan mengingat kompleksitas permasalahan yang timbul di masyarakat yang kurang memahami dan tipisnya penghayatan nilai, norma dan gagasan dari Empat Pilar Kehidupan Berbangsa dan Bernegara.

Tentang maman fathurochman

Berkomitmen untuk turut serta mewujudkan Pandeglang yang Bersih, Berbudaya, dan Berkesejahteraan, menjaga nilai-nilai budaya dan kearifan lokal, serta senantiasa bersyukur dan berharap ridho Allah SWT.
Pos ini dipublikasikan di Analisis dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s