SEBA BADUY – Sebuah Perjalanan Syarat Makna

GambarMendengar kabar dari seorang kawan yang aktif di Banten Heritage tentang rencana akan diadakannya acara Seba Baduy pada tahun ini, menjadi kepenasaran tersendiri bagi saya untuk melihat secara langsung bagaimana prosesi acara tersebut dilaksanakan. Terbayang di benak bahwa akan ada serombongan saudara-saudara kita dari daerah Baduy, menjalan kaki menuju Pusat Kota Pemerintahan di Wilayah Banten dengan membawa hasil bumi mereka dan menyerahkannya kepada pimpinan setempat. Perjalanan hari itu akhirnya membawa saya tiba di Alun-Alun Kabupaten Lebak, dan sudah terlihat hilir mudik orang-orang Baduy yang berjalan tanpa alas kaki dan mengenakai pakaian khas dan ikat kepala yang berwarna putih dan biru bercorak.
Menurut kabar sebelumnya, bahwa pelaksanaan Seba Baduy akan dilaksanakan pada jam 20.00 WIB bertempat di Pendopo Kabupaten Lebak, hingga setibanya disana sore hari saya sempatkan berkeliling di sekitaran Alun-Alun bersama kawan-kawan melihat berbagai aktivitas masyarakat yang sibuk dengan urusannya masing-masing untuk sekedar duduk-duduk, berolah raga dan berjalan-jalan dengan keluarganya.
Tidak seperti biasanya, di dalam Pendopo terlihat adanya tenda dan kursi-kursi yang menimbulkan sebuah pertanyaan, apakah Seba baduy akan disambut dengan persiapan seperti sebuah acara persepsi besar? Yang saya tahu mereka biasanya duduk bersila di lantai, namun yang menjadi keheranan saya, tidak ada satupun Orang Baduy yang diperbolehkan masuk ke tenda mewah dan penuh kursi dan umbul-umbul. Ada acara apa ini? Pikir saya, sehingga saya bertanya kepada seseorang yang ada disana, bahwa Pendopo tersebut diperuntukan bukan untuk acara Seba Baduy, melainkan acara resepsi pernikahan keluarga seorang pejabat.
Saya terheran-heran, mengapa acara yang sudah turun-temurun dilaksanakan sejak ratusan tahun yang lalu ternyata baru kali ini tidak dilaksanakan di Pendopo Kabupaten Lebak. Namun saya tidak akan berpolemik membicarakan hal itu, saya tetap terpukau melihat kesederhanaan dan kesahajaan Orang Baduy yang tetap menerima kondisi tersebut dan prosesi Seba dialihkan ke Kantor BKD (Badan Kepegawaian Daerah) Kabupaten Lebak yang tentunya sangat krodit dipenuhi oleh 1.797 Orang Baduy yang berdesak-desakan. Prosesi Seba Baduy tersebut akhirnya dilaksanakan dengan sangat cepat tidak lebih dari 10 menit, dan mereka dengan khusuk mendengarkan sambutan dari seorang pimpinan daerah tak lebih dari 50 detik, sepertinya masih ada acara yang harus dihadiri oleh pejabat tersebut.
Dengan sikap yang penuh keikhlasan dan penerimaan yang luar biasa, Orang-Orang Baduy tetap mengikuti prosesi tersebut dengan baik, meskipun sebelumnya banyak diantara mereka yang letih setelah berjalan kaki kurang lebih 50 kilometer dari tempat tinggal mereka menuju pusat Pemerintahan Kabupaten Lebak.
Setelah menyelesaikan prosesi, terlihat kesibukan masing-masing, baik panitia penyambutan yang mempersiapkan penyuguhan acara hiburan menonton film melalui “layar tancep”, dan hilir mudik orang-orang dengan kesibukannya masing-masing, tak terlihat adanya masyarakat setempat yang antusias menyaksikan acara tersebut.
Menurut rencana keesokan harinya akan dilakukan prosesi Seba Baduy kedua di Pendopo Kabupaten Pandeglang, dan tentunya menjadikan saya bersemangat untuk terus melihat acara tersebut. Pagi-pagi sekali saya sudah melihat sekelompok Orang Baduy tidak lebih dari 30 orang secara khusus hadir dan membawa hasil bumi dan menyerahkannya kepada seorang pejabat daerah ditemani oleh 2 orang pejabat Pemerintah Daerah setempat. Kali ini Orang Baduy di terima di Pendopo Kabupaten dan prosesi dilakukan secara khusyuk dan lebih lama dari prosesi sebelumnya. Terlihat kegembiraan mereka setelah selesai melakukan prosesi dan mereka melanjutkan kembali perjalanan ke KP3B (Kawasan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten) untuk mempersiapkan acara prosesi ketiga di Pendipo eks-Karesidenan Banten di Serang.
Kali ini saya tidak melihat Orang Baduy yang memakai kostum pakaian putih-putih, karena mereka sedang melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki dari Lebak Rangkasbitung langsung ke Serang. Saya pun akhirnya bersiap untuk melakukan perjalanan berikutnya untuk melihat acara prosesi Seba Baduy ketiga yang akan dilaksanakan di Kota Serang, tentunya saya tidak berjalan kaki seperti saudara-saudara kita Orang Baduy, dan menurut rencana bahwa prosesi tersebut akan dilakukan pada malam hari dengan suguhan hiburan “Wayang Golek”.
Setibanya di Pendopo eks-Karesidenan Banten di Kota Serang ternyata Orang-Orang Baduy sudah disambut dengan kemeriahan dan tempat yang sangat baik, hanya saja saya tidak terlihat kerumunan masyarakat yang bebas melihat acara Seba Baduy, karena memang dilakukan di tempat khusus yang tidak memungkinan masyarakat luas langsung melihatnya. Tentunya ini menjaga ketertiban agar prosesi Seba Baduy dapat terlaksanakan dengan baik, terlihat banyak panitia yang sibuk melakukan penyambutan, hal ini sangat kontras dengan upacara penyambutan pada prosesi pertama Seba Baduy sebelumnya.
Perjalanan melihat “Seba Baduy” pada tahun ini ternyata memberikan kesan yang mendalam dan memberikan pengalaman dan syarat akan nilai, beberapa catatan perjalanan saya:
  1. Seba Baduy yang berasal dari kata “Sabah” berarti berpergian jauh untuk mempererat tali silaturahmi antara masyarakat Baduy dengan Pemerintah setempat. Hal tersebut mereka lakukan setiap tahunnya dan bukan sekedar acara ritual semata, melainkan bentuk konsistensi terhadap keseimbangan alam dan sosial masyarakat yang saya rasa sangat syarat akan nilai sebagai perwujudan kecintaan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia dan memperkokoh jiwa Bhinneka Tunggal Ika.
  2. Pelaksanaan Seba Baduy dilakukan dengan memberikan hasil bumi dan hasil kerajinan kepada Pemerintah setempat yang menggambarkan bentuk kesejahteraan dan rasa terima kasih masyarakat Baduy terhadap pemerintahnya. Hasil panen dan kerajinan tersebut tidak begitu saja diberikan, jumlahnya pun akan memberikan makna seberapa banyak jumlah penduduk saat ini di daerah baduy.
  3. Seba Baduy diikuti oleh Warga Asli dari Suku baduy yang tinggal di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak dan mewakili 56 perkampungan Baduy, antara lain Kampung Cikeusik, Cibeo, Ciboleger, dan Cikatawarna. Kali ini diikuti oleh semua perwakilan semua kampung mulai dari anak kecil sampai orang tua laki-laki, siapapun anak kecil yang paling kecil yang sanggup dan orang tua sampai yang paling tua masih sanggup berjalan.
  4. Waktu pelaksanaan dilaksanakan setiap tahun sekali dan merupakan agenda rutin, namun tidak memiliki patokan yang pasti tentang tanggal pelaksanaan berdasarkan kalender nasional. Mereka akan melaksanakan Seba berdasarkan perhitungan mereka sendiri yang berpatokan pada musim panen dan pantang untuk mengganggu aktivitas mereka sendiri maupun orang lain.
  5. Seba Baduy sangat memiliki potensi budaya dan pariwisata yang bisa dikembangkan menjadi event tahunan daerah karena banyak masyarakat yang sebetulnya sangat menginginkan menyaksikan langsung prosesi Seba Baduy. Disamping itu memiliki potensi ekonomi yang dapat dikembangkan dan memberikan nilai tambah bagi masyarakat Baduy itu sendiri dan masyarakat sekitarnya.
  6. Pada saat prosesi Seba Baduy dilakukan, terlihat kepatuhan dan kerapihan barisan dan mereka dengan sabar dan tanpa banyak kata-kata dan keributan mengikuti setiap prosesi yang dilakukan. Hal ini bukan sekedar kerapihan dan ketertiban ketika kita melihat mereka berjalan kaki di jalan dengan beriringan tidak saling salip menyalip.
  7. Masih banyak aspek sejarah dan sosial kemasyarakatan yang bisa digali sebagai bentuk pembelajaran bagi kita semua yang sudah mengenyam kebudayaan dan pengetahuan modern. Jangan lupa akan sejarah dan kearifan lokal masyarakat yang kaya akan nilai-nilai luhur dan menjadikan bangsa ini besar.

Tentang maman fathurochman

Berkomitmen untuk turut serta mewujudkan Pandeglang yang Bersih, Berbudaya, dan Berkesejahteraan, menjaga nilai-nilai budaya dan kearifan lokal, serta senantiasa bersyukur dan berharap ridho Allah SWT.
Pos ini dipublikasikan di Ulasan dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s