Wakil Rakyat atau Wakil Uang?

CYMERA_20140127_224851

Dalam keseharian kita, istilah wakil rakyat identik dengan anggota DPR atau anggota legislatif. Namun apakah semua rakyat kita mengetahui sosok wakilnya? Apakah mereka sesungguhnya menyuarakan pendapat rakyat? Hasil kajian Centre for Strategic and International Studies (CSIS) mengejutkan. Mayoritas rakyat (81,1 persen) tidak mengenal anggota legislatif di daerah pemilihannya. Lantas, siapakah sesungguhnya yang selama ini duduk di Senayan? Benarkah wakil rakyat? Jika prosesnya hanya sekedar membeli suara dari praktek transaksional, maka dia hanya mewakili uang semata bukan mewakili sosok rakyat. Jangan-jangan mereka hanya mewakili kepentingan pribadi dan kelompoknya saja tanpa menghiraukan kepentingan rakyat?

Apabila rakyat tidak mengenalnya, apakah mereka sejatinya sekedar wakil dari partai? Namun di sudut lain ada masyarakat sudah tidak peduli lagi apakah mereka sebagai wakil dari rakyat atau wakil partai, yang terpenting ada uang ada suara. Tentunya kondisi ini sangat tidak kita harapkan, karena akan merusak jiwa demokrasi yang sudah kita bangun. Maka sekarang ini ramai-ramailah semua partai “menjual” tokohnya agar dapat dipilih sebagai wakil rakyat yang merefleksikan nilai dan ideologi yang diusung sebuah partai.

Saya berpendapat dalam Pemilu 2014 mendatang, sebagian besar masyarakat akan memilih sosok atau tokoh yang dikenalnya tanpa mempertimbangkan dari mana asal partainya. Demikian pula sebaliknya, seorang tokoh yang menjadi Calon Anggota DPR atau Caleg harus pandai “menjual diri” kepada calon kontituennya.

Pembahasannya tidak sampai disitu saja, yang lebih penting adalah jika Caleg sudah terpilih menjadi Anggota Dewan, apakah dia benar-benar menjadi wakil rakyat yang memilihnya atau tidak? Jangan-jangan dia hanya menjadi wakil dirinya sendiri karena perpendapat sudah membeli suara rakyat dengan uang. Karena merasa sudah memberi uang pada rakyat, maka dia berpendapat sudah tidak ada lagi hubungan, karena pola transaksional yang dilakukan adalah ‘jual putus’. Hal inipun tidak kita harapkan, paling tidak mereka dapat mewakili kepentingan partai yang merefleksikan kepentingan rakyat yang menjadi anggota partai tersebut. Jika sebuah partai merupakan representatif dari kepentingan rakyat, boleh jadi wakil partai pun adalah wakil rakyat.

Lebih dari 300 tahun lalu, John Locke (1632-1704) mengingatkan betapa penguasa absolut, yang juga manusia biasa itu, sangat berbahaya jika menetapkan hukum. Locke mengajukan solusi berupa lembaga legislatif sebagai representasi rakyat baru kemudian dijalankan eksekutif.

Pertanyaan mendasarnya, rakyat mana yang kini diwakili DPR? Menjelang Pemilu 2014, pertanyaan bisa kita ajukan, rakyat mana yang akan diwakili oleh DPR hasil pemilu legislatif pada 9 April 2014 mendatang? Pilihannya tentu ada di tangan rakyat, meskipun untuk bekal memilih, banyak rakyat yang tidak cukup mengenal siapa sesungguhnya calon anggota legislatif yang ada di daerah pemilihannya. Sudah saatnya sekarang ini rakyat menjadi pemilih aktif dengan mencari tahu kualitas dan latar belakang calon yang layak dipilih, agar kita terhidar dari tindakan salah pilih seperti “membeli kucing dalam karung”.

Tentang maman fathurochman

Berkomitmen untuk turut serta mewujudkan Pandeglang yang Bersih, Berbudaya, dan Berkesejahteraan, menjaga nilai-nilai budaya dan kearifan lokal, serta senantiasa bersyukur dan berharap ridho Allah SWT.
Pos ini dipublikasikan di Pandangan dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s