PNPM Pusaka: Implementasi Tri Sakti Berkepribadian dalam Kebudayaan

PNPM Pusaka: Implementasi Tri Sakti Berkepribadian dalam Kebudayaan

Mengikuti Rapat Pelaksanaan Koordinasi Pemberdayaan Sosial Budaya pada Masyarakat Dalam Pelestarian Pusaka di Bogor pada tanggal 18 – 20 Mei 2014, sebagai Fasilitator PNPM Pusaka yang mewakili Provinsi Banten, banyak pengetahuan dan bekal yang didapat untuk menularkan virus positif tentang bagaimana strategi untuk memberdayaan guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sebagai Fasilitator yang ditunjuk oleh Banten Heritage untuk mewakili Pemerintah Daerah, saya perlu membagi pengetahuan melalui media sosial dan media lainnya untuk mensosialisasikan Hasil Rakor dan TOT sebagai bentuk pertanggujawaban sosial saya kepada Masyarakat Banten secara umum.

Mengingat apa yang disampaikan oleh Bung Karno tentang tiga paradigma besar yang bisa membangkitkan Indonesia menjadi bangsa yang besar baik secara politik, ekonomi, dan budaya yang kemudian konsep tersebut disebut Tri Sakti. Ketiga Paradigma tersebut yaitu: Kedaulatan Politik, Kemandiriaan Ekonomi, dan Berkepribadian dalam Kebudayaan, tentunya ini menjadi titik tolak pemikiraan saya untuk dapat berperan-serta memberikan sumbangsih kita terhadap kesejahteraan masyarakat khususnya di Provinsi Banten. Mengembalian jati diri bangsa melalui pelestarian aset warisan budaya merupakan hal yang sangat penting untuk mencapai salah satu tujuan Trisakti tersebut yaitu Kebudayaan yang Berkepribadian. Melalui PNPM Pusaka sebagai Kebijakan Pemerintah, membuktikan bahwa pembangunan tidak hanya sekedar melalui pembangunan fisik yang tangible seperti pembangunan infrastruktur semata, namun pembangunan non fisik yang intangible melalui pendekatan sosial dan budaya itu justru sangat diperlukan, ingat bahwa “Indonesia Raya harus membangun Jiwanya dan membangun Badannya”.

Berkepribadian dalam Kebudayaan sebagai salah satu yang disampaikan dalam konsep Tri Sakti, menurut Bung Karno bahwa aspek budaya sama pentingnya dengan aspek lainnya. Bangsa Indonesia harus menghormati budaya warisan nenek moyang dan menghargai nilai-nilai luhur kebudayaan di masyaraskat. Karakter dan kepribadiaan budaya Nusantara haruslah di jaga dan dilestarikan. Misalnya budaya gotong royong yang melambangkan kolektifitas sebuah komunitas yang guyub dan berbagai karya budaya yang mewarnai dunia seni. Pemerhati budaya Indonesia terkemuka dari Amerika, Profesor Benedic Anderson banyak sekali mengungkapkan kekayaan budaya Nusantara, seperti budaya Jawa yang kaya akan nilai luhur. Misalnya di katakan bahwa masyarakat Jawa sangat menghargai aturan yang formal. Etika dan aturan yang lahir dari keputusan formal pasti akan dilegitimasi secara kolektif oleh masyarakat. Kandungan budaya seperti ini sangat bagus dalam memperkuat demokrasi karena proses demokratisasi pada beberapa sisi mengandung etika dan nilai-nilai yang formal. Ini membuktikan keyakinan Bung Karno bahwa budaya kita adalah budaya yang luhur dan mendukung kepribadian bangsa Indonesia.

Kementerian Koordinator Kesejahteraan Rakyat RI telah melakukan kerjasama dan melalui nota kesepahaman dengan Badan Pelestarian Pusaka Indonesia (BPPI/Indonesian Heritage Trust) pada tanggal 5 Desember 2012 yang lalu telah menjadi pijakan untuk melaksanakan amanah pendampigan kegiatan pemberdayaan masyarakat dalam mengentaskan kemiskinan melalui pengenaalan dan pendayagunaan pusaka Indonesia. PNPM Pusaka sejatinya merupakan upaya untuk menguatkan dan melengkapi Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri, melalui pengembangan potensi asset pusaka baik alam, budaya dan saujana yang dimiliki oleh komunitas, suku, dan daerah di seluruh wilayah Nusantara. Dalam hal ini pusaka tidak hanya meliputi pusaka adiluhung namun termasuk pusaka rakyat yang menjadi bagian kehidupan keseharian masyarakat.

Pelaksanaan PNPM Mandiri selama sejak tahun 2007, dinilai cukup positif dalam menanggulangi kemiskinan yang ada di Indonesia. Melalui pendekatan pemberdayaan masyarakat yang mengedepankan prinsip-prinsip musyawarah mufakat, PNPM mampu memberikan ruang pembelajaran dalam pengambilan keputusan yang demokratis. PNPM sendiri di rencanakan akan selesai pada tahun 2014. PNPM sendiri seperti yang kita terdiri dari berbagai macam program seperti PNPM Mandiri Perdesaan, PNPM Perkotaan/Program Pengembangan Kecamatan Perkotaan (P2KP), PNPM Generasi, PNPM Paska Bencana, PNPM Paska Krisis, PNPM Integrasi, PNPM PISEW, PNPM Pariwisata dan lain sebagainya.

Untuk selanjutnya Deputi Kemenkokesra, Sujana Royat menyatakan bahwa generasi baru dari PNPM yaitu PNPM Pusaka. Menurut beliau, PNPM Pusaka diharapkan dapat mendorong kelompok-kelompok masyarakat peminat kebudayaan lokal untuk mencintai dan melestarikan budaya, adat istiadat, kuliner, seni dan tata krama budaya lokal dan menerapkan dalam kehidupannya menjadi lebih berbudaya (culturally vibrant), dan akhirnya bila ini bisa dilakukan di semua tempat maka bangsa ini akan menjadi bangsa yang bermartabat kembali, bukan pengejar materi dan kekuasan dan sering di adu domba dan dimanfaatkan oleh berbagai kelompok kepentingan.

Mungkin akan saya kutip status Facebook Sujana Royat yang di tulis pada awal bulan Mei 2012. “Setelah bangsa ini terpecah belah oleh partai politik, pemekaran wilayah dan radikalisme di bidang agama dan etnis. Maka sudah waktunya bangsa ini direkatkan lagi dan di persatukan lagi melalui budaya. Kebudayaan adalah perekat bangsa. Semua kelompok masyarakat harus kembali ke akar tradisi dan budaya lokalnya. Kebudayaan nasional adalah puncak puncak kebudayaan lokal. Masyarakat harus memelihara budaya lokal dan melestarikannya. Ini intinya PNPM Pusaka, siapa saja yang mencintai budaya, seni dan potensi kekayaan alam saujana/landscape bisa bergabung dalam upaya ini. Rekatkan bangsa melalui budaya!”

Sebagai praktisi pemberdayaan dan pemerhati sosial budaya, saya memiliki harapan yang tinggi terhadap program PNPM Pusaka ini. Beberapa pengetahuan dan hasil dari pelatihan sebagai Fasilitator yang telah saya dapatkan, kiranya dapat diterapkan dan diimplementasikan di lapangan sehingga tujuan PNPM Pusaka dapat tercapai dengan baik dan memberikan dampak yang positif bagi kesejahteraan masyarakat.

PNPM Pusaka, sedikit banyak memberikan harapan yang baru. Ketika manusia tidak mengenal budaya, tidak mengapresiasi seni, tidak menyukai keindahan sesungguhnya dia telah menolak hakikat sejati dirinya. Manusia dengan perwujudan akal dan budi, mampu melahirkan ragam kebudayaan yang membuat manusia itu merasa manusia. Yang terjadi sekarang adalah manusia tidak melihat dia sendiri menjadi manusia, namun lebih melihat apakah dia Konsultan, Bupati, Direktur, tukang ojek, petani atau apapun saja. Manusia menjauh dari sifat sejati manusia. Ketika manusia sudah tidak berlaku sebagai manusia maka apa yang disampaikan Sujana Royat menjadi nyata “terpecah belah oleh partai politik, pemekaran wilayah dan radikalisme di bidang agama dan etnis”. Dan tantangan tersebut mau tidak mau harus di hadapi oleh PNPM Pusaka.

Tentang maman fathurochman

Berkomitmen untuk turut serta mewujudkan Pandeglang yang Bersih, Berbudaya, dan Berkesejahteraan, menjaga nilai-nilai budaya dan kearifan lokal, serta senantiasa bersyukur dan berharap ridho Allah SWT.
Gambar | Pos ini dipublikasikan di Harapan dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s