Menanti Pekik “Merdeka” Kaum Pembaruan Banten

Menanti Pekik “Merdeka” Kaum Pembaruan Banten

Oleh: Maman Fathurochman

(Mantan Ketua Forum Komunikasi Himpunan Mahasiswa Banten dan Anggota Badan Koordinasi Pembentukan Provinsi Banten)

Pekik “Merdeka” terdengar bukan hanya pada saat Indonesia memperingati hari kemerdekaan saja, teriakan “merdeka” pernah terdengar saat masyarakat Banten memperjuangkan pembentukan Provinsi Banten pada Tahun 2000 yang lalu. Istilah merdeka tersebut tentunya bukan sebuah keinginan untuk memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, namun merupakan sebuah ungkapan hati yang dirasakan Masyarakat Banten untuk menyatakan diri merdeka dari keterbelakangan, ketertinggalan, kemiskinan dan berharap banyak memperoleh kesempatan untuk memperbaiki keadaan menuju kesejahteraan.

Tidak dapat dibayangkan betapa gembiranya masyarakat Banten ketika itu, akhirnya Provinsi Banten yang diperjuangkan itu lahir sudah. Para tokoh pejuang Banten berangkulan, bersalaman sambil mengucapkan “Selamat”, bahkan ada yang menitikkan air mata keharuan. Ribuan rakyat Banten histeris sambil memekik “Allaahu Akbar!”, “Hidup Provinsi Banten!”, “Hidup DPR!”. Para ulama memanjatkan doa, dan bersujud syukur di pelataran Gedung DPR RI yang megah itu.

Sebuah ironi jika keadaan saat ini setelah lebih dari satu dasawarsa terbentuknya Provinsi Banten masih terlihat kondisi masyarakat yang masih mengalami keterbelakangan, ketertinggalan, kemiskinan sedangkan para pejabat di Pemerintahan Provinsi Banten hidup dengan bergelimang harta dan kemewahan. Apakah arti “merdeka” yang pernah didengungkan dan diteriakan para pejuang jika kita masih saja berada pada kondisi terjajah, dan yang lebih meyakitkan lagi kita merasa dijajah oleh bangsa kita sendiri, oleh saudara kita sendiri. Masyarakat Banten yang terkenal dengan kehidupannya yang agamis menjadi miris ketika kita mendengar masih banyak praktek korupsi yang dilakukan oleh para pemimpin yang seharusnya mereka memberikan pelayanan dan perlindungan kepada masyarakat.

Tak dapat dipungkiri juga bahwa telah terjadi intensitas pembangunan yang cukup besar di beberapa daerah di wilayah Provinsi Banten, namun ada pula daerah-daerah yang masih tertinggal. Secara umum apakah setelah terbentuknya Provinsi Banten telah mejadikan kehidupan masyarakat Banten menjadi lebih baik sesuai dengan yang dicita-citakan? Pembangunan tentunya bukan hanya berbentuk fisik semata, namun jauh dari itu adalah tatanan kehidupan masyarakat dan aspek sosial budaya masyarakat perlu juga diperhatikan! Perilaku dan sikap para pejabat dan aparatur pemerintahan pun perlu juga menjadi perhatian sehingga mereka dapat menjadi panutan dan menjalankan fungsinya sebagai “to serve” dan “to save”, melayani dan melindungi.

Perhelatan politik dan suksesi kepemimpinan telah dilalui dengan baik, pastisipasi masyarakat khususnya Banten memberikan arti tersendiri bagi keberhasilan demokrasi bangsa. Namun apakah perhelatan itu telah memberikan arti yang positif pula terhadap kehidupan bermasyarakat di Banten? Jangan-jangan pesta demokrasi dan perhelatan pergantian kepemimpinan hanyalah sebagai sandiwara para kaum oportunis yang hanya mementingkan kepentingannya sendiri dan kelompoknya? Jika hal ini terjadi, kemanakah para kaum idealis dan para pejuang Provinsi Banten berpihak? Dimanakah mereka sebenarnya? Apakah mereka lupa ingatan? Hal inilah yang selalu menjadi pertanyaan pribadi saya yang pernah secara langsung terlibat dan menyaksikan proses terbentuknya Provinsi Banten.

Tulisan ini sepertinya menjadi satir dan cenderung membuat perasaan kita menjadi terkesan sedih melihat perkembangan Banten. Tapi bisa jadi menjadi sebuah renungan atau bahkan penyemangat untuk kembali tersadar akan semua cita-cita yang selama ini diperjuangkan oleh para pejuang pendiri Provinsi Banten.

Kenyataannya yang saya lihat sejauh ini, telah terjadi degradasi pemikiran dan tindakan sekelompok orang yang memanfaatkan Banten sebagai Provinsi untuk kepentingan kelompok dan politiknya saja. Sehingga masyarakat yang kritis dan idealis belum mampu menunjukkan jati dirinya dan seakan mereka hilang ditelan bumi. Apakah mereka sudah tidak peduli lagi atau terlalu lelah berjuang? Atau mungkin mereka telah menjadi antek para pencari kepentingan? Situasi inilah yang menjadikan sebuah harapan akan munculnya “Kaum Pembaruan” di Banten.

Dengan tidak saling menyalahkan atau menuding sekelompok orang, harapan dan cita-cita akan berdirinya Provinsi Banten harus tetap diperjuangkan oleh kita semua, khususnya para generasi yang tetap berkomitmen terhadap kebenaran dan berkomitmen terhadap perjuangan mewujudkan Masyarakat Banten kearah yang lebih baik menjadi masyarakat yang Baldatun Toyyibatun Warofuun Gofur. Perjuangan demi perjuangan Masyarakat Banten telah banyak tercatat dalam sejarah, baik masa keemasan kerajaan, sebelum kemerdekaan, setelah kemerdekaan, maupun pasca reformasi dan terbentuknya Provinsi Banten. Tentunya tidak menutup kemungkinan kita semua menorehkan kembali sejarah dimana kita harus mengulang melakukan perjuangan dengan melawan segala bentuk penindasan dan penjajahan yang telah berganti baju dan berganti rupa seolah-olah apa yang dilakukannya adalah untuk kepentingan rakyat.

Pembodohan terhadap pemikiran harus kita lawan, nilai-nilai pragmatism yang menyesatkan harus disingkirkan, dan praktek politik transaksional harus menjadi musuh bersama bagi Masyarakat Banten. Itu hanya sekelumit pekerjaan rumah yang tidaklah mudah untuk diselesaikan, diperlukan berbagai cara dan upaya guna menyadarkan semua lapisan masyarakat untuk ambil bagian menjadi para pejuang sesuai dengan kemampuan dan porsinya masing-masing. Lalu, dimanakah mereka itu para kaum pembaruan itu berada? Semua tergantung pada upaya dan niat kita semua untuk menghadirkannya di saat dan waktu yang tepat serta selalu berharap akan ridho Allah SWT.
#MF4P @MFathurochman @aktivis_98

View on Path

Tentang maman fathurochman

Berkomitmen untuk turut serta mewujudkan Pandeglang yang Bersih, Berbudaya, dan Berkesejahteraan, menjaga nilai-nilai budaya dan kearifan lokal, serta senantiasa bersyukur dan berharap ridho Allah SWT.
Pos ini dipublikasikan di Harapan, Refleksi dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s