KONSEP

Konsep Strategi Pemenangan Pemilu

Mamuju9Strategi diartikan sebagai petunjuk umum dimana suatu organisasi merencanakan untuk mencapai tujuannya. Menurut Keneth R. Andrews, bahwa strategi adalah suatu proses evaluasi kekuatan dan kelemahan yang ada dalam organisasi yang dilakukan oleh eksekutif puncak serta melihat kesempatan dan ancaman pada saat ini dan memutuskan strategi yang cocok  dengan kesempatan yang ada pada lingkungannya.
Strategi adalah pola tindakan utama yang dipilih untuk mewujudkan visi organisasi, melalui misi. Strategi membentuk pola pengambilan keputusan dalam mewujudkan visi organisasi. Dengan tindakan berpola, perusahaan dapat mengerahkan dan mengarahkan seluruh sumber daya organisasi secara efektif keperwujudan visi organisasi. Tanpa strategi yang tepat, sumberdaya organisasi akan terhambur konsumsinya, sehingga akan berakibat pada kegagalan organisasi dalam mewujudkan visinya.
Dalam lingkungan yang kompetitif, strategi memainkan peran penting dalam menentukan dan mempertahankan kelangsungan hidup dan pertumbuhan organisasi. Jauch & Glueck, mengemukakan bahwa strategi adalah rencana yang disatukan, menyeluruh dan terpadu yang mengaitkan keunggulan strategi organisasi dengan tantangan lingkungan dan dirancang untuk memastikan bahwa tujuan utama organisasi dapat dicapai melalui pelaksanaan yang tepat oleh organisasi.
Porter, mengaitkan strategi dengan upaya organisasi untuk mencapai keunggulan bersaing, bahkan dikatakan bahwa strategi adalah alat penting dalam rangka mencapai keunggulan bersaing. Hal tersebut sejalan dengan tujuan strategi yaitu untuk mempertahankan atau mencapai suatu posisi keunggulan dibandingkan dengan pihak pesain, seperti yang juga dikemukakan Karhi Nisjar. Implikasi dari kajian tersebut adalah bahwa organisasi dikatakan masih meraih suatu keunggulan apabila ia dapat memanfaatkan peluang-peluang dari lingkungannya, yang memungkinkan organisasi untuk menarik keuntungan-keuntungan dari bidang-bidang yang menjadi kekuatannya.
Tentunya dalam kaitan apapun termasuk aktivitas organisasi politik, strategi akan dipergunakan untuk meraih keunggulan yang berkelanjutan (Sustainable Competitive Advantage) dalam mencapai tujuan politiknya. Berbagai prinsip manajemen dan pengelolaan sumberdaya organisasi akan sangat luas penggunaan dan penerapannya, termasuk bagaimana sebuah organisasi politik meraih suara dari konstituennya atau masyarakatnya.
Runtuhnya rezim Orde Baru membuat perubahan peta politik di Indonesia. Namun setelah 32 tahun berada dalam rezim yang otoriter, tampaknya publik tidak terbiasa dengan persaingan yang sehat. Apalagi menggunakan political marketing dalam pengertian yang ideal. Selama tiga kali pemilu pada masa reformasi, sangat minim memberikan pelajaran kepada publik tentang persaingan yang sehat dan efisien. Ke depannya, persaingan politik di Indonesia makin dilakukan secara bebas, transparan, dan terbuka. Dan pada saat itu nantinya, partai politik sebagai kontestan membutuhkan suatu metode yang dapat memfasilitasi mereka dalam memasarkan gagasan politik, isu politik dan ideologi partai. Di saat makin seragamnya ideologi politik, maka perlu dilakukan positioning untuk dapat membedakan suatu partai dengan partai lainnya.
Bahkan saat ini, publik tidak lagi melihat bahwa ideologi menjadi alasan untuk memilih. Menurut Firmanzah (2008:35) apa pun ideologinya, yang penting apakah partai bisa membawa bangsa dan negaranya mencapai kemanjuan dengan program kerjanya. Publik berharap partai yang dapat menawarkan solusi terbaik untuk maslaah-masalah kebangsaan dengan program kerja mereka. Ikatan tradisional – yaitu ideoligi – akan tergantikan dengan hal-hal yang lebih bersifat pragmatis seiring dengan makin meningkatnya jumlah pemilih non-partisan. Dalam melakukan positioning partai, tidak dapat dipungkiri bahwa pengaruh media massa dalam komunikasi politik begitu besar. Menurut Klapper (1960, dalam Firmanzah, 2008:18) media memiliki kemampuan untuk mempengaruhi opini publik dan perilaku masyarakat. Menurut Negrine (1996, dalam Firmanzah 2008:19) media dianggap memiliki peran yang sangat penting dalam mentrasmisi (relaying) dan menstimulasi permasalahan politik.
Firmanzah (2008) mengatakan bahwa pengunaan metode marketing dalam bidang politik dikenal sebagai pemasaran politik (political marketing). Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa dalam masa semakin tingginya tingkat persaingan pada dunia politik sehingga diperlukan strategi tertentu untuk dapat memenangkat persaingan tersebut. Seperti pada pemasaran komersil, maka Pemasaran Politik juga terdapat produsen (pelaku politik), produk (produk politik: Person, Party, Policy melalui Presentation) dan konsumen (electorate).
Menurut Nursal (dalam Firmanzah, 2007) dalam political marketing, terdapat tiga strategi mengkampanyekan political marketing yaitu: pemasaran produk politik secara langsung kepada calon pemilih (push political marketing), pemasaran produk politik melalui media massa (pull political marketing) dan melalui kelompok, tokoh atau organisasi yang berpengaruh (pass political marketing).
Organisasi politik atau partai politik tentunya akan berupaya melakukan langkah-langkah, seperti pencitraan dan popularitas kandidat di mata pemilih, strategi marketing, strategi public relation, lama waktu Caleg memperkenalkan dirinya ketengah masyarakat, kinerja dan track recordnya selama ini, frekuensi dan kualitas penampilan Caleg di media massa, performance, kompetensi, pesona fisik maupun “aura” yang dipancarkan oleh kandidat yang mempengaruhi pasar politik yang terdiri atas tiga bagian yaitu: pemilih, kelompok berpengaruh (influencer groups) dan media massa.
Diluar negeri dalam beberapa tahun terakhir, taktik yang sering digunakan untuk pemenangan pemilu adalah taktik deliberate priming (farrel, kolodny, Medvic, 2001). Dalam taktik ini, champaign manager pada intinya melakukan tiga hal utama: Pertama, menentukan isu-isu yang dinilai penting oleh segmen calon pemilih (biasanya berdasar jajak pendapat). Kedua, membuat analisis penentuan isu yang paling menguntungkan individu kontestan dan mengabaikan isu-isu persoalan lain (meski itu dalam platform partai merupakan isu sentral sekalipun). Ketiga, merekayasa citra kontestan sesuai isu persoalan yang dipilih, merancang pesan dan simbol yang diperlukan, serta merencanakan pemanfaatan media, semuanya untuk mengusahakan agar calon pemilih terfokus pada isu yang telah dilekatkan pada kontestan.
Strategi kampanye yang diterapkan bisa beragam, namun umumnya diawali dengan analisis positioning, atau analisis “posisi pasar” partai atau kontestan, yang hasilnya kemudian dipergunakan untuk menentukan langkah strategis selanjutnya. Kontestan yang menempati posisi pasar sebagai nicher (unggul di segmen pemilih tertentu), contohnya, akan menerapkan langkah-langkah strategis hingga taktik serta teknik kampanye yang berbeda dengan kontestan yang menempati posisi sebagai market leader, challenger, dan sebagainya (Collins dan Butler, 1996). Kampanye pemilu juga bisa mengarah pada kondisi di mana rekayasa citra individu kontestan yang dihasilkan para champaign manager, atau pesona kandidat menjadi lebih penting daripada platform dan isu yang diperjuangkan partai. “Politisi Busuk” bisa dipasarkan dalam kemasan seorang pahlawan dari masa lalu yang tidak berhubungan sama sekali dengan masalah masa kini. Semuanya dimungkinkan oleh penerapan strategi, taktik, dan teknik komunikasi pemasaran yang sistematis dan rasional.
Salah satu bahan utama untuk pemenangan lainnya adalah Riset Politik. Menurut Johnson (2001), dalam sistem Pemilu yang demokratis, riset politik merupakan alat yang vital. Kandidat akan sulit memenangkan persaingan jika tidak mengetahui kekuatan dan kelemahan pesaing, perilaku pemilu pemilih, segmentasi pemilih, peta wilayah dan faktor lainnya.
Kampanye dan propaganda menurut kandidat semata, akan menyebabkan berpalingnya pemilih ke kontestan lain karena, apa yang disampaikan tidak sesuai dengan aspirasi pemilih. Atau kalaupun kandidat mengetahui apa aspirasi pemilih, namun jika tidak mengetahui cara-cara yang tepat untuk penempatan substansi yang diinginkan, sangat mungkin akan menimbulkan mispersepsi atau pengaburan makna dari pesan yang disampaikan. Atau boleh jadi juga pesaing melakukan pendekatan dengan cara yang berbeda namun lebih efektif, bisa juga dengan cara yang sama pesaing dapat menggagalkan kemenangan kita karena mereka melakukannya dengan lebih baik.
Oleh karena itu, untuk mengantisipasi kemungkinan itu kontestan perlu melakukan riset untuk mengetahui kekuatan dan strategi pesaing. Beberapa kegunaan utama dari riset politik antara lain: pertama, untuk menyusun strategi dan taktik. Adman Nursal (2004) mengatakan Strategi kampanye politik tanpa riset bagaikan orang buta yang berjalan tanpa tongkat. Sebaliknya riset tanpa sumber daya strategis seperti desain strategi, orang, dana dan sumber daya lainnya ibarat orang lumpuh yang memahami jalan dan peta akan tetapi tidak memiliki kendaraan untuk menuju tempat yang diinginkannya.
Kedua, riset untuk memonitor hasil penerapan strategi. Implementasi sebuah strategi, akan menimbulkan respon dari pesaing. Reaksi para pemilih perlu diketahui untuk menerapkan strategi berikutnya. Riset monitor politik berorientasi pada tindakan dan reaksi terhadap kondisi saat ini. Jika hasil riset adalah begini, maka apa tindakan yang akan dilakukan.
Salah satu metode riset yang paling populer adalah dengan poling atau survei. Menurut Kavanagh bahwa penyelenggaraan polling memberi input informasi yang relevan untuk membuat strategi marketing politik, diantaranya adalah: membangun citra, menyusun kebijakan, tracking atau memantau kelemahan dan kekuatannya dari waktu ke waktu dan menetapkan pemilih sasaran yang berdasarkan karakter tertentu yang menjadi targetnya.
Menurut Shea dan Burton (2001), kita perlu melakukan riset terhadap profil data pesaing. Riset mengenai data pesaing sangat bermanfaat dalam menyusun strategi marketing politik. Riset yang dilakukan adalah untuk memperkirakan apa yang ditawarkan pesaing untuk masa depan (evaluasi prospektif) dan bagaimana reputasinya dimasa silam (evaluasi introspektif).
Berdasarkan keterangan diatas, tinggal bagaimana kesiapan dan kemauan kandidat atau kontestan untuk menerapkan hasil riset yang dilakukan. Berdasarkan ini, kandidat telah  melakukan cara-cara kampanye dan pemenangan dengan langkah-langkah yang cerdas, dan bukan yang membodohi pemilih dengan cara-cara yang kurang mendidik seperti menyogok pemilih dengan uang (money politics). Atau dengan politik yang kotor seperti melakukan fitnah atau pembunuhan karakter terhadap pesaingnya. Akan tetapi mengungkapkan track record negatif/jelek pesaing dalam artian sebenarnya supaya menjadi bahan pertimbangan publik boleh saja sebagai alat kontrol sosial.
Diolah Penulis dari berbagai sumber.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s