Lingkungan Hidup

Lingkungan hidup sebagaimana dalam Undang-undang No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi alam itu sendiri, kelangsungan perikehidupan, dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain. Indonesia merupakan negara dengan kekayaan lingkungan hidup yang tiada terkira, sayangnya tingkat kerusakan lingkungan hidup di Indonesia juga sangat tinggi dan mimiriskan.
Sebuah tulisan dibawah ini dari seorang blogger yaitu Mas Alamendah memberikan inspirasi yang sangat sederhana bagaimana kita berperan untuk menjaga dan melestarikan hidup di kehidupan sehari-hari.
Ternyata tidak harus jadi aktivis lingkungan ala Greenpeace yang berperahu kencang menuju kapal pemburu ikan paus, berdemonstrasi di depan gedung pertemuan WTO setiap tahun, atau berdiri tegar memblokade traktor dan mesin berat lainnya milik perusahaan kayu di tengah-tengah hutan Kalimantan, untuk bisa menyelamatkan lingkungan.
Dulu saya berpikir seperti itu, dan sempat miris karena tidak punya keberanian untuk menjadi aktivis. Tapi ternyata saya salah, banyak jalan menuju Roma, seperti juga banyak cara untuk melindungi lingkungan. Jadi bagaimana caranya untuk hidup yang ramah lingkungan?
RUBAH POLA BELANJA
Membeli produk dengan kemasan yang lebih ramah lingkungan; Tak jarang kita lihat di pasaran, produk yang memiliki kemasan yang sangat canggih, apik, tapi sayangnya kurang ramah lingkungan. Coba lihat produk biskuit, kadang bungkusnya berlapis-lapis.
Lapisan luar, karton, kemudian diberi lapisan plastik dicampur alumunium, kemudian masih lagi dibungkus per-individual dengan plastik. Bayangkan berapa jumlah sampah yang dihasilkan hanya dengan mengkonsumsi satu biskuit!
Pilihlah produk daur ulang ketika tersedia; Kalau memungkinkan, pilihlah kertas, amplop, dan buku hasil daur ulang. Utamakan kompos hasil daur ulang sampah rumah tangga daripada pupuk kimiawi lainnya.
Pilihlah peralatan dan produk elektronik yang hemat energi; Contoh gampangnya saja, dengan memilih bohlam lampu yang hemat energi. Saya rasa sudah banyak beredar di pasaran Indonesia. Memang harganya jauh lebih mahal, tapi jauh lebih hemat energi dan lebih tahan lama. Energi listrik yang disedot jauh lebih sedikit, rekening listrik jadi lebih murah, dan kalau semakin banyak pengguna listrik memilih produk elektronik yang hemat energi, energi listrik yang dibutuhkan dan digunakan pun jadi lebih berkurang dan mungkin…..…mungkin ya, tidak ada lagi jadwal mati lampu akibat minimnya tenaga listrik yang bisa disalurkan oleh PLN ke setiap rumah. Mesin cuci, komputer, lemari pendingin, dsb, sekarang juga sudah banyak yang memiliki tipe hemat energi. Membeli mesin macam ini bisa menjadi cara investasi yang pintar dan ramah lingkungan.
Belanja di dekat rumah; Dengan memilih untuk berbelanja di tempat yang lebih dekat, kita tidak perlu menggunakan mobil dan artinya mencegah polusi kendaraan.
RUBAH POLA KONSUMSI
Konsumsi produk bio dan kurangi mengkonsumsi daging merah. Produk bio maksudnya produk yang dihasilkan dengan tidak menggunakan bahan pestisida dan bahan kimiawi lainnya, atau sekarang lebih populer dengan sebutan makanan organik. Mungkin banyak yang tidak tahu, tapi selain dianggap sebagai salah satu penyebab penyakit kanker, pestisida juga adalah salah satu penyebab polusi air tanah.
Terus apa hubungannya dengan sapi? Ternyata peternakan sapi dan berbagai hewan ternak lainnya, menurut laporan Food and Agricultural Organisation (FAO), adalah salah satu penyebab utama berbagai masalah lingkungan seperti: pemanasan global, degradasi tanah, polusi air dan tanah, dan hilangnya keanekaragaman biomass. FAO menerangkan kalau polusi gas rumah kaca yang dihasilkan oleh hewan ternak berjumlah 18% dari total polusi gas rumah kaca.
Kalau dipikir-pikir, peringatan ini lebih pantas untuk masyarakat Eropa dan Amerika Utara yang memiliki budaya karnivora. Menu makanan Indonesia yang tidak terlalu didominasi dengan daging merah (sapi, kuda, kambing, dsb) saya rasa sudah cukup ramah lingkungan dalam hal ini. Tapi, tidak ada salahnya toh untuk lebih tahu. Jadi, lebih baik pilih gado-gado daripada steak 250 gr di Steak House……….
HEMAT DI RUMAH
Banyak cara untuk menghemat listrik; Mematikan lampu ketika keluar ruangan, mematikan TV atau radio ketika tidak ada yang menonton atau menyimak, dan mematikan komputer atau TV secara total dan tidak membiarkannya “stand-by” semalaman. Mematikan TV lewat alat pengontrol jarak jauh biasanya tidak akan mematikan TV secara total. Beberapa peralatan elektronik juga tetap menyedot listrik selama kabel sumber energinya tidak dicabut dari colokan di dinding.
Air juga perlu dihemat; Dari yang tidak membiarkan keran air selalu mengucurkan air bila tidak perlu, sampai memanfaatkan air hujan untuk menyiram tanaman di pekarangan.
HEMAT DI KANTOR
Gunakan printer hanya kalau benar-benar perlu. Jangan mentang-mentang ada printer gratis main cetak berbagai artikel atau email yang tidak perlu.
Hemat kertas; Cetak dengan menggunakan kedua sisi kertas, dan gunakan kertas kembali bila memungkinkan. Sisi kosong kertas bisa digunakan untuk mencetak draft surat atau untuk menulis.  Lumayan, bisa menghemat kertas dan menumbuhkan sadar lingkungan di diri para pegawai kantor.
Gunakan lampu hanya kalau benar-benar perlu; Terkadang kita punya kebiasaan otomatis, masuk kantor langsung menghidupkan lampu ruangan. Padahal terkadang kita tetap bisa bekerja dengan baik menggunakan penerangan alami.
Cintailah tangga; Bagi mereka yang berkantor di gedung bertingkat, kalau memungkinkan lebih baik gunakan tangga daripada lift. Lima tingkat masih bisa kan dicapai dengan naik tangga, beda kasusnya kalau harus merayap sampai lantai 10 ( kalau yang ini dijamin bisa langsung gempor…….. ).
HEMAT DI PERJALANAN
Sarannya cukup klasik; Hemat penggunaan mobil pribadi, utamakan penggunakan transportasi publik. Hindari pemakaian mobil 4×4 yang boros energi, dan gunakan alat transportasi alternatif seperti sepeda, atau jalan kaki. Hindari penggunaan alat pendingin di dalam mobil (iya saya tahu, kebijakan yang cukup mustahil bagi mereka yang tinggal di Jakarta), dan kalau memungkinkan berbagi mobil dengan teman atau tetangga. Berbagi mobil, maksudnya dengan menggunakan mobil bersama-sama, dari rumah ke kantor misalnya, ongkos bensin dan servis bisa ditanggung ramai-ramai dan polusi kendaraan pun jadi berkurang.
Intinya, tidak mustahil untuk merubah pola hidup menjadi lebih ramah lingkungan.
Kita bisa tetap hidup dengan nyaman sambil menyelamatkan lingkungan bagi anak-cucu.
Sebagai konsumer kita bisa menekan pihak produser dengan merubah pola belanja dan konsumsi.
Tidak perlu jadi CEO sebuah perusahaan untuk bisa menuntut perubahan pola produksi menjadi lebih ramah lingkungan, dan tidak perlu jadi Menteri Lingkungan untuk bisa berbuat sesuatu bagi polusi udara di kota besar.
Setiap tindakan berarti.  Percayalah ……..
Salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s