Menguak Tabir Nuswantara Mercusuar Dunia

Berikut Sinopsis buku “Menguak Tabir Nuswantara Mercusuar Dunia” pengarang Jajat M. Notoprayugo

SEHELAI RAMBUT
Senja kala itu terlihat begitu indah saat mentari sore akan segera kembali ke ufuk barat meninggalkan siang menuju gulita malam. Sinarnya yang kuning kemuning menghiasi cakrawala hutan Cilukut yang rimbun nan teduh bak hijaunya taman Firdaus, sebuah dusun kecil di Rangkasbitung ibu kota kabupaten Lebak tempat dimana Suku Baduy menetap.

Suku Baduy adalah suku terasing yang masih berpegang teguh pada adat dan budaya leluhur Padjajaran dan sebagai bukti nyata keberadaan Prabu Siliwangi yang menjadi kebanggaan masyarakat Sunda.
Tiba-tiba saya dikejutkan dengan kedatangan dua orang utusan dari suku Inca dan suku Maya Amerika Tengah/Selatan yang bertandang membawa berita bahwa sebentar lagi semua bangsa di dunia akan tunduk dibawah kekuasaan Nusantara. Baca lebih lanjut

Iklan
Dipublikasi di Banten | Tag , , | Meninggalkan komentar

Silsilah Sultan Banten dan Keturunannya

makam maulana hasanudin

SILSILAH SULTAN BANTEN DAN PUTRA-PUTRANYA

(dikutip dari Ismail, Muhammad, Petunjuk Jalan dan Keterangan Bekas Kerajaan Kesultanan Banten, dst., Saudara, Serang, 1983; kecuali disebutkan lain)

SYARIF HIDAYATULLAH (SUNAN GUNUNG JATI) berputra: 1. Ratu Ayu Pembayun, 2. Pg. Pasarean, 3. Pg. Jayalalana, 4. Maulana Hasanuddin*), 5. Pg. Bratakelana, 6. Ratu Winaon, 7. Pg. Turusmi.

I. MAULANA HASANUDDIN PANEMBAHAN SUROSOWAN (1552 – 1570) berputra: 1. Ratu Pembayun Fatimah, 2. Pg. Yusuf*), 3. Pg. Arya Japara, 4. Pg. Suniararas, 5. Pg. Pajajaran, 6. Pg. Pringgalaya, 7. Pg. Sebrang Lor, 8. Ratu Keben, 9. Ratu Terpenter, 10. Ratu Biru, 11. Ratu Ayu Arsanengah, 12. Pg. Pajajaran Wado, 13. Tumenggung Wilatikta, 14. Ratu Ayu Kamudarage, 15. Pg. Sebrang Wetan.

II. MAULANA YUSUF PENEMBAHAN PAKALANGAN GEDE (1570 – 1580) berputra: 1. Pg. Arya Upapati, 2. Pg. Arya Adikara, 3. Pg. Arya Mandalika, 4. Pg. Arya Ranamanggala, 5. Pg. Arya Seminingrat, 6. Pg. Manduraraja, 7. Pg. Muhammad*), 8. Ratu Rangga, 9. Ratu Ayu Wiyos,  10. Ratu Manis, 11. Ratu Demang, 12. Pg. Widara, 13. Ratu Belimbing, 14. Ratu Pecatanda.

III. MAULANA MUHAMMAD PG. RATU ING BANTEN (1580 – 1596) berputra: 1. Pg. Abdul Kadir*)

IV. SULTAN ABUL MAFKHIR MAHMUD ‘ABDUL KADIR KENARI (1596 – 1651) berputra: 1. Sultan ‘Abul Ma’ali Ahmad Kenari (Putra Mahkota), 2. Ratu Dewi, 3. Ratu Ayu, 4. Pg. Arya Banten, 5. Pg. Arya Wirasmara, 6. Pg. Sudamanggala, 7. Pg. Ranamanggala, 8. Ratu Belimbing, 9. Ratu Gedong, 10. Pg. Arya Manduraja, 11. Pg. Kidul, 12. Ratu Dalem, 13. Ratu Lor, 14. Pg. Seminingrat, 15. Ratu Kidul, 16. Pg. Arya Wiratmaka, 17. Pg. Arya Danuwangsa, 18. Pg. Arya Prabangsa, 19. Pg. Arya Wirasuta, 20. Ratu Gading, 21. Ratu Pandan, 22. Ratu Mirah, 23. Ratu Sandi, 24. Pg. Arya Jayaningrat, 25. Ratu Citra, 26. Pg. Arya Adiwangsa, 27. Pg. Arya Sutakusuma, 28. Pg. Arya Jayasentika, 29. Ratu Hafsah, 30. Ratu Pojok, 31. Ratu Pacar, 32. Ratu Bangsal, 33. Ratu Salamah, 34. Ratu Ratmala, 35. Ratu Hasanah, 36. Ratu Hasaerah, 37. Ratu Kelumpuk, 38. Ratu Jiput, 39. Ratu Wuragil. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Banten, Ulasan | Tag , , , | 1 Komentar

Perkembangan Kota Kesultanan Banten

CYMERA_20140317_162846

Kronologis perkembangan Kota Kesultanan Banten di Kawasan Banten Lama berdasar analisis peta-peta kuno yang dapat diamati sebagai berikut:

Tahun 1527 – 1570

Menurut kronik-kronik masa itu, sejak 8 Oktober 1526 kota dipindahkan dari Banten Girang ke Banten Lor (13 km ke arah selatan) pada masa pemerintahan Maulana Hasanuddin. Bangunan pertama yang didirikan oleh Maulana Hasanuddin dan dilanjutkan oleh Maulana Yusuf adalah dinding batas kota dengan dinding-dindingnya terbuat dari bata dan batu. Konfigurasi klasik dari masjid, keraton, lapangan, pasar, dan pelabuhan telah diwujudkan. Telaga Tasikardi pun telah dibangun oleh Maulana Yusuf.

Tahun 1570 – 1596

Kota Banten telah dikelilingi dinding batu, yang di bagian dalamnya terbagi dalam kampung-kampung berpagar. Telah dibuat sebuah kanal untuk mengalirkan air sungai Cibanten ke dalam kota. Selama periode ini, pertumbuhan kota masih terus berlanjut. Menurut Cornelis de Houtman, yang tiba di Banten tanggal 23 Juni 1596, kota tersebut besarnya seperti kota Amsterdam.

Tahun 1596 – 1659

Kota Banten bertumbuh terus, sehingga memerlukan perluasan kanal-kanal dan tembok-tembok keliling. Dinding kota menghadap ke arah laut, dan telah diperkuat dengan bastion-bastion serta kubu pertahanan. Lokasi pasar Karangantu terletak di sebelah timur muara sungai Cibanten dan telah diberi tembok keliling ─ tapi masih di luar dinding batas kota. Di sebelah barat didirikan perkampungan bertembok keliling yang diperuntukan bagi orang-orang asing. Menurut Cortemunde, di sebelah barat kota terdapat penginapan orang-orang Eropa dan kompleks orang-orang Cina. Di sana pun terdapat beberapa kanal, dinding kota, dan jalan yang kemudian dipindahkan. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Banten, Ulasan | Tag , , | Meninggalkan komentar

Peninggalan Bangunan Kesultanan Banten

PicsArt_10-08-07.37.53

Dari puing-puing reruntuhan bangunan sisa Kesultanan Banten, yang sekarang terletak di desa Banten 9 km dari kota Serang, kita dapat mengamati beberapa peninggalan sebuah kota Islam terbesar yang pernah ada, yaitu:

Keraton Surosowan

Keraton Surosowan adalah tempat kediaman sultan Banten, yang oleh orang Belanda disebut Fort Diamant atau Kota Intan, yang dikelilingi oleh tembok perbentengan seluas ± 4 hektar. Keadaan keraton itu kini sudah hancur, yang nampak hanyalah sisa bangunan saja yang berupa pondasi-pondasi serta tembok-tembok dinding yang sudah rusak.

Menurut Babad Banten, keraton ini dibangun oleh raja Banten pertama yakni Maulana Hasanuddin (1526 – 1570). Pembangunan tembok benteng dibangun oleh raja Banten kedua, Maulana Yusuf (1570 – 1580), dengan bangunan benteng yang disusun dari batu bata dan batu karang. Benteng ini kemudian dirobah bentuknya menjadi bastion dan ditambah dengan tembok batu karang di bagian luar, hingga benteng tampak lebih kuat dan kekar oleh Hendrik Laurenzns Cardeel (1680 – 1681) pada masa pemerintahan Sultan Haji (1672 – 1687).

Keraton Surosowan ini telah mengalami penghancuran berkali-kali. Kehancuran total yang pertama kali terjadi ketika perang saudara antara Sultan Ageng Tirtayasa dengan pihak VOC yang dibantu putra mahkota Sultan Haji pada tahun 1680. Akibat perang ini, keraton Surosowan dibumi-hanguskan oleh Sultan Ageng Tirtayasa sebelum melanjutkan perlawanan dari Tirtayasa. Setelah Sultan Haji dinobatkan menjadi raja Banten pengganti ayahnya, ia meminta bantuan seorang arsitek Belanda, Hendrik Laurenzns Cardeel, untuk membangun kembali istananya. Cardeel meratakan dan kemudian membangunnya kembali keraton tersebut di atas puing-puing reruntuhan keraton.

Kehancuran keduakalinya dan ini yang terparah ialah terjadi pada tahun 1813, saat mana Gubernur Jendral Belanda waktu itu Herman Daendels memerintahkan penghancuran keraton. Hal ini disebabkan karena Sultan Banten yang terakhir, Sultan Rafiuddin, tidak mau tunduk kepada Belanda. Akibat penghancuran ini, maka tidak tersisa sedikit pun bangunan keraton yang masih dalam keadaan utuh. Keraton itu kemudian ditinggalkan penghuninya, dan terbengkalai tanpa ada yang memperhatikannya lagi. (Untuk memindahkan “pamor” kesultanan, dalam upaya mengambil “kepatuhan” rakyat Banten, pemerintah Hindia Belanda mengambil batu bata dari bekas keraton Surosowan dalam pembangunan gedung kabupaten dan gedung-gedung pemerintahan lainnya di Serang. Hal ini terjadi hingga tahun 1830) Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Banten | Tag , , , , , | Meninggalkan komentar

Asep Kurnia Setia pada Baduy

PicsArt_06-14-03.35.36

ASEP KURNIA Setia pada Baduy
DWI BAYU RADIUS 14 Juni 2017

Asep Kurnia (52) mendedikasikan dirinya untuk warga Baduy. Ia menjembatani komunitas yang teguh memegang adat istiadat itu dengan birokrasi dan modernitas. Kedekatan pria itu dengan mereka diwujudkan tanpa mengharapkan pamrih.

Asep menerima petai dari seorang warga Baduy seraya tertawa. Ada sekitar 30 tangkai petai yang diantar ke rumah Asep di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten, Kamis (27/4). Petai-petai itu diambil dari kebun warga Baduy sendiri.

Beberapa warga Baduy lain sedang asyik berbincang di rumah Asep. Aroma sambal dan ikan asin yang sedang digoreng menguar di udara. Asep dan warga Baduy makan siang.

Malam harinya, rumah Asep juga digunakan sejumlah akademisi dan warga Baduy untuk berdiskusi. Mereka membahas beberapa kosakata yang sehari-hari digunakan warga Baduy sambil bersenda gurau.

Malam kian larut dan para tamu pamit kepada tuan rumah. Asep mempersilakan seorang warga Baduy yang ingin bermalam di rumahnya.

Suasana itu hanya sedikit gambaran dari kedekatan Asep dengan warga Baduy yang juga tinggal di Desa Kanekes. Di desa itu terdapat warga Baduy Dalam yang mematuhi pantanganpantangan, seperti tak menggunakan peralatan elektronik, naik kendaraan bermotor, dan mengenakan alas kaki. Kelompok lain adalah Baduy Luar yang boleh menggunakan berbagai fasilitas itu. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Refleksi | Tag , , , , | Meninggalkan komentar

Bersyukur

PicsArt_03-25-11.51.41

Alhamdulillah, inilah kata yang sepantasnya kita ulang-ulangi berada di hari-hari awal di bulan Ramadhan. Betapa tidak, dari jutaan orang beriman, kita termasuk orang yang terpilih bertemu Ramadhan tanpa ada hambatan sedikitpun. Kita bisa melaksanakan ibadah apa saja di bulan yang mulia ini. Coba lihat berapa banyak yang berada di rumah sakit yang sedang dirawat dengan penyakit tertentu saat Ramadhan tiba. Berapa orang yang berada dalam tahanan atau tidak bebas beramadhan seperti kita.

Berada di awal Ramadhan terasa memang berat. Namun memang ini hanyalah masalah kebiasaan saja. Setelah sepekan, kita akan terbiasa tidak makan di siang hari. Namun, yang harus kita jaga dengan baik adalah perbuatan kita yang mengurangi pahala berpuasa. Kita harus waspada jangan sampai kita termasuk mereka yang oleh Rasulullah dikatakan tidak mendapat pengampunan, karena banyaknya pelanggaran yang sering kita tidak sadari.

Bertekadlah untuk tekun beribadah dari hari pertama sampai hari terakhir. Bertekadlah untuk mengisi hari-hari Ramadhan dengan berbagai ibadah sunnah yang dianjurkan. Bertekadlah untuk mengkhatamkan bacaan Al-Qur’an dan shalat di malam hari selama Ramadhan. Bersiaplah melawan godaan hawa nafsu karena godaan syetan sangat dekat dengan kita.

Maha Benar Allah dengan firman-Nya: Fadzkuruunii adzkurkum wasykuruulii walaa takfuruun (QS Al-Baqarah 2:152). Artinya: Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.

BERSYUKURLAH KARENA KITA ADALAH ORANG PILIHAN YANG DAPAT BERAMADHAN DI TAHUN INI

#MF4B #BabadBanten @MFathurochman @aktivis_98

Dipublikasi di Ulasan | Meninggalkan komentar

Silat Gunung Jati

PicsArt_05-11-08.50.31

PERGURUAN SILAT GUNUNG JATI

Oleh: Ust. Muhammad AM

Kondisi jiwa yang kuat dan fisik yang sehat sangat diperlukan dalam menghadapi kehidupan yang semakin hari semakin tidak menentu. Banyak diantara mereka yang menjadi stress karena tidak kuat dalam menghadapi permasalahan hidup, jiwanya tidak tenang, masalah kecil yang seharusnya mudah diselesaikan menjadi besar karena ketidakmampuan mengatasinya. Saat ini juga banyak ditemukan orang yang sakit fisik bukan disebabkan terganggunya organ fisik tapi disebabkan oleh masalah yang sedang dihadapi. Hal ini menunjukkan bahwa sehat fisik saja tidak cukup, oleh karena itu diperlukan suatu kegiatan yang dapat mengembleng fisik dan kejiwaan sehingga seseorang mampu menghadapi permasalahan hidup yang sedang dihadapi.

Salah satu kegiatan yang dapat meningkatkan kualitas fisik dan jiwa adalah dengan berlatih silat Gunung Jati. Perguruan silat Gunung Jati merupakan salah satu ilmu silat yang bersumber dari Syekh Syarif Hidayatullah atau lebih dikenal dengan Sunan Gunung Jati. Ilmu silat Gunung Jati ini merupakan dakwah Islamiyah yang dapat membimbing umat Islam menuju keridloan Allah Ta’ala.

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Ulasan | Meninggalkan komentar